Jumat, Mei 16, 2008

Menyebrangi Laut Selat Sunda menuju Gunung Krakatau- Rakata





Sabtu pagi, 19 Mei 2007, aku membaca koran TEMPO langgananku. Di halaman pertama, sebelah sudut kiri bawah ada gambar perahu nelayan dengan judul berita Gelombang Pasang. Beritanya sendiri : Sejumlah nelayan berjuang melawan ombak agar bisa merapat di pantai.” Aku jadi ingat pada perjalanan laut (18 Mei 2007) bersama anggota ragens. Perjalanan antara Anyer dan Anak Gunung Krakatau. Memang kami ada mendengar seorang dari kampung nelayan mengatakan kata “pasang” tatkala kami menyusuri jalan kecil dari masjid tempat parkir menuju dermaga untuk naik ke boat yang kami sewa seharga sejuta empat ratusan ribu dari si Kardus, namun karena si Kardus dan si keling Kapiten mengatakan bahwa ombak besar tidak ada di tengah lautan, kekhawatiran kami jadi tidak begitu besar, kecuali pada beberapa anggota ragens ( Pn, Brimen, As) yang walaupun mereka berusaha mengkamuplasekannya dengan sikap dan ucapan, tetapi wajah ketakutan mereka tidak bisa disembunyikan. Pada perjalanan kedua ragens ke jawa tengah dan timur waktu itu, sempat terjadi gempa. Kali ini terjadi ombak pasang. Sesungguhnya ragens ini pembawa petaka ataukah pembuka penutup sumbatan ledakan agar tidak lebih besar? Wah itu diluar kemampuan kita! Sebagai anggota ragens yang kebagian tugas membuat laporan perjalanan, aku akan mencobanya sehingga menjadi sebagai berikut :
1. Yang berangkat dalam ragens ketiga kali ini adalah the fully ragens team (Tim Ragens Yang Lengkap, Po, Dr, Aa, Ac, Bd, Pn, Brimen dan As). Menteri Azwir Rajasa karena sudah di resufle dan Djuri Sembiring karena invalid tidak ikut serta. 2. Meninggalkan gedung Datel setelah Magrib karena si Dr pukul 17 masih di Penggilingan. Begitu juga usul Pr agar berangkat ba’da Magrib. 3. Rangkas menjadi tujuan karena ragens ingin mendapati kelakuan apa yang biasa dilakukan si Aa semasa kecil jika mengungkapkan kekesalannya. Temuan itu akan dianalisa apakah ada kaitan antara kelakuan semasa kecil dengan pekerjaannya sekarang. Hasilnya ternyata klop. Yaitu semasa kecil kalau si Aa marah dia akan merusak lemari, sekarang dia menjadi arsitek. Menjadi arsitek barangkali tujuannya untuk memperbaiki lemari-lemari yang pernah dirusaknya dahulu. (Sekedar mengingatkan, si Pn semasa kecil kalau marah suka melempari genteng rumah orang tuanya, sekarang di Kalimantan, dia akan mengritik saran apa-apa yang sudah diperbuat menejernya sekalipun kalau tidak sesuai prosedure SOA, kalau dalam anggapannya pekerjaan tidak dilakukan sesuai dengan aturan. Ini nanti kita bahas dalam laporan tersendiri.) Menjelang pukul 10 malam (16 Mei 2007) ragens tiba di tempat yang dituju. Empat tokek mendekam menyambut ragens. Rupanya mereka ingin melihat secara langsung apa itu ragens. Kekuatan apa yang mereka punyai sampai melebihi kekuatan tembok cina sekalipun. Hawa di situ antara panas dan dingin, tetapi tidak panas dingin, kecuali aku yang mulai bebersin-bersin sedikit kerepotan karena warung obat sudah pada tutup. Suguhan opak panggang ketan manis dan asin, bekakak potong-potong, nasi dari beras huma, lalapan, orek kacang panjang, emping yang banyak pohon melinjo disitu dan lain sebagainya semua terasa Dahsyat! Sepintas tentang beras huma, sebagaimana dijelaskan si Pn ahli pertanian, beras huma yakni beras yang didapat dari padi yang ditanam di sekitar rumah atau kebun, bukan ditanam di pematang sawah. Beras huma itu tidak diperjualbelikan sehingga orang-orang tertentu saja yang mempunyainya. Lokasi tempat tinggal keluarga Aa agak ke bawah, sehingga mungkin saja air hujan menggerus dan mendorong bebatuan. Ac (si ahli fosil) menemukan batu merah dan netral. Dia merencanakan fosil temuannya itu akan dipotong-potong dan dijadikan batu cincin untuk diberikan kepada ragens masing-masing satu. Kita tunggu saja!. 4. Bangunan Keraton Kaibon Banten yang ragens lihat tinggal bekas-bekasnya saja. Tidak jauh dari situ ada menara. Untuk sampai ke pijakan tertinggi sebagai tempat pemantauan harus melewati tangga melingkar yang hanya cukup untuk dilalui satu orang. Anak-anak tangganya sejumlah antara 85 sampai 87. Tentu ada angka pastinya, tetapi dominan ragens menyebut angka 85. Cerobong di tengah lantai dipakai petugas atas dan bawah untuk saling memberi komando dalam pengaturan arus masuk dan keluar pelancong, sebab tidak mungkin dua orang yang berpapasan bisa lewat sekaligus. Dari tempat pemantauan itu terlihat bidang-bidang bangunan. Ada pemakaman ada penginapan, ada aula, pendopo dan kamar kecil. Sebagaimana di tempat-tempat yang di keramatkan, banyak pengemis di situ. Dari anak-anak sampai kakek-nenek. Ada pedagang uang di area itu sebagai tempat penukaran uang receh untuk didermakan kepada para pengemis itu. Seratusan logam, dua ratusan sampai lima ratusan. Dahulu mungkin fungsi menara itu untuk memantau situasi sekitar, di kala perang untuk mendapatkan posisi musuh, karena dari situ dapat terlihat sesuatu yang berada sampai kilo meteran jauhnya. Sotong sebesar lengan yang dijual di warung-warung jalan masuk menjadi santapan ragens berikutnya di samping cemilan asam kanji. Aku bersyukur dapat bodrex untuk mengatasi influenza. 5. Objek wisata Karang Bolong sempat ragens kunjungi. Tidak ada yang terlalu berkesan di situ. Buah kelapa hijau dengan pantatnya yang merah menjadi minuman sebelum melanjutkan ke Tanjunglesung. 6. Di Tanjunglesung bay, village dengan tarif hampir dua juta per malam untuk tujuh orang itu, ragens tidak mendapat kamar. Ragens hanya bisa beristirahat di beachnya. Jadilah si Pr makin menunjukkan kebenaran anggapannya bahwa Tanjunglesung tidak lebih menarik daripada Guci dan Dieng. Namun pernahkah ragens menyesali apa yang telah diperbuat? Andaipun salah bukan kesalahan itu yang dibesar-besarkan tetapi bagaimana solusi yang harus dicari. Begitu juga terhadap persediaan bensin yang menipis dan dimana-mana tempat jual bensin habis. Bahkan ragens berani membeli sepuluh ribu per liter sekalipun. Ac, si oportunis, mengatakan ragens tidak punya sikap menyerah. Selalu saja banyak jalan keluar di tengah kesulitan apapun. Alhamdulillah akhirnya bensin didapat pada salah satu pom bensin walau mengantri agak panjang. Seratus lima puluh ribu rupiah diisikan ke tanki. Maka pupuslah kekhawatiran dari harus mendorong mobil. Dahsyat memang arti doa-doa sehabis shalat Asar itu. Menjelang malam ragens mendapat tempat menginap di pondok Parahyangan sebelah tempat wisata Pasir Putih. Lokasinya berhadapan dengan pantai. Ombak beriring-iringan. Derunya menyeramkan. Riaknya bergemericik tidak putus-putusnya. Dengan senter Pr menyoroti jalannya ombak. Mirip jet coster. Dari kiri dari kanan menggelegar-gelegar. Sambil menunggu Ac dipijat, anggota ragens yang lain serasehan tentang apa yang sudah dilakukan Pn di Kalimantan. Juga kemungkinan-kemungkinan anggota ragens untuk bekerja di Kalimantan juga. Bagi Pr, lain-lain tidak ada yang berat, kecuali meninggalkan jalannya anak. Waktu aku tanya memang selama ini anaknya tidak diajari untuk jalan sendiri? Brimen hanya terkekeh-kekeh saja. Apakah dia punya makna lain dari jalannya anak? Apakah beda antara jalannya anak dengan jalan anaknya? Makan malam sea food di tepi jalan Anyer. Ikan-ikan bakar, udang dan cumi. Saat itulah rencana ke Anak Gunung Krakatau mulai timbul. Secara kebetulan petugas rumah makan itu ada yang mempunyai kenalan dengan pemilik boat. Melalui dialah akhirnya besok hari akan dilakukan perjalanan ragens ke Anak Gunung Krakatau. 7. Pagi hari tanggal 18 Mei 2007, si Kardus menjemput. Si Brimen memakai hotpant. Pantatnya bulat menonjol dengan sepasang pangkal kaki yang putih. Sekarang masing-masing telah memakai pelampung. Satu-satu wajah anggota ragens mulai warna-warni. Apalagi tatkala mulai ke luar dari dermaga, ombak mengayun-ayun boat dengan kasar. Si Keling Kapiten dan si Suryadihirto menenangkan bahwa di lautan nanti ombak tidak sedahsyat ini. Boat mulai meninggalkan dermaga. Anggota ragens ada yang tertunduk, ada yang komat-kamit, ada yang tenang. Si Keling Kapiten membawa boat dua mesin 60 enduronya dengan kecepatan penuh. Boat melaju seakan terbang. Si Pn terkulai, tidak sanggup duduk di kursi tersedia. Dia berselonjor di lantai. Begitu pula si Aa. Si As pucat pasi terduduk memejamkan mata dengan lesu. Kami saling me-nenggang rasa. Tidak saling menggoda. Semakin lama berjalan tujuan makin kelihatan. Ibu Gunung Krakatau, Gunung Anu dan Anak Gunung Krakatau. Dahsyat besarnya Gunung Krakatau pada mulanya. Pecah-pecahannya saja sudah demikian besar. Karena laut pasang, maka boat tidak bisa merapat. Harus berenang dari boat ke tepian, kata si Keling Kapiten. Satu dua anggota ragens maju mundur keberaniannya. Tetapi dengan sabar si Keling Kapiten menyarankan agar memilih untuk turun demi mendapatkan sesuatu yang dahsyat. Satu-satu anggota ragens mulai melucuti pakaiannya masing-masing hingga yang tersisa hanya celana dalam dan pelampung. Melompatlah si Dr, Ac, Bd, aku dan seterusnya hingga akhirnya semua melompat ke laut dan berenang ke tepian. Bukan cuma iklan BRITAMA yang menyajikan mobil nyangkut di pohon. Pn dan si Suryadihirto pun nyangkut ke pohon terhempas ombak. Lukalah kaki si Pn. Tapi air laut cepat membuat lukanya kering. Selanjutnya masing-masing memakai pakaiannya kembali. Seusai pertunjukan Kalimantan Membara, maka mulailah penjelajahan. Si bule yang sudah terlebih dahulu ada di situ menyambut kedatangan kami dengan ucapan “Massage Natural”. Kami seperti mengerti saja kata-katanya menjawab dengan tertawa saja. Gud gud feri gud, tukas si Ac. Di mulai dari menerobos pepohonan pada jalan setapak, lalu terlihatlah hamparan tanah tandus berwarna kuning kecoklatan. Tanah keras tertimbun buah-buah kecil dan ranting serabut pinus, tahulah kami makna massage natural. Telapak-telapak kaki ragens yang tak beralas kaki menekan duri-duri pinus. Tanah gersang mengeras dan panas. Tiada pohon dapat menjadi tempat berlindung dari terik matahari. Kalaupun ada hanya sejenis alang-alang yang sama sekali tidak bisa dijadikan tempat berlindung. Lepas dari padang pinus terlihatlah jalan menaik bertutup pasir gunung berwarna kehitaman. Matahari mulai tinggi. Panas menyengat, memanggang pepasiran, hingga aku kepayahan. Tenggorokanku kering, nafas tersengal-sengal dan telapak kaki terasa tertusuk-tusuk, panas dan melepuh. Dahsyat. Belum sampai ke puncak aku merasa dehidrasi. Pn dengan arogannya meminta aku menyuarakan menyerah. Aku mulai menyatakan menyerah. Po pun sudah mengikuti tanpa kata-kata hanya sikapnya mulai bergerak turun. Tapi karena mendapat ancaman tidak difoto, semangat Po bangkit lagi. Po naik lagi, begitu pula Aa. Aku buka akal. Aku mencari ranting yang dapat kupakai untuk mengais pepasiran agar dapat pasir yang lembab. Biarlah mereka naik duluan. Aku tak mau menunggu sendirian di tempat seperti itu, maka aku buka baju dan kaos dalam. Kubalut telapak kakiku dengan baju dan kaos dalamku dan berusaha naik lagi. Tidak ada tempat berlindung dari terik matahari dan panggangan pasir gunung. Aku menggunakan ranting untuk mengais pepasiran hingga terbuka pasir lembab. Disitu kaki bisa ditumpukan untuk sekedar menarik nafas untuk maju kembali. Pendakian dahsyat berakhir. Kami semua sudah di puncak. Dari situ terlihatlah keindahan alam yang sesungguhnya, pegunungan, laut warna warni dan langit. Benarlah si Keling Kapiten. Selagi kami berbincang-bincang Si Ac rupanya membayangkan bahwa perjalanan belum usai. Masih ada satu tahap lagi, yakni turun melalui jalan yang sama dengan tingkat kesulitan yang lebih besar. Andai tergelincir, bakal terguling-gulinglah sampai ke tempat datar, sudah dapat diperkirakan luka apa yang bakal terjadi. Itulah rupanya yang menyebabkannya terkulai. Angkatan Laut Australia datang. Kami sempat berfoto bersama, lalu mereka melanjutkan naik ke Anak Gunung Krakatau. Sedangkan kami tidak akan mampu sebab perbekalan yang sangat minimal. Air minum hanya tinggal satu botol setengah literan dan satu aqua gelas. Sudah pasti permintaan Bd dengan terpaksa kami tolak. Sebab air persediaan bukan untuk digunakan minum tetapi untuk mencuci tangan. Ah diluar kemampuan kita! Akhirnya kami kembali sampai di pantai dengan susah payah. Si Dr sang ketua sudah loyo. Kakinya pun dibebat dengan buku panduan speedy. Begitupun si Bd, telapak kakinya dibebat dengan plastik pembungkus. Juga si Brimen telapaknya luka menginjak pasir keras. Baru lepas dari satu tantangan, tantangan lain masih ada. Untuk ke boat ragens harus berenang sebab air masih pasang. Maka satu-satupun berenang dengan terlebih dahulu melucuti pakaian kecuali celana dalam. Pernah melihat film Doggy and Monkey? Seperti itulah Brimen tatkala kembali ke boat dari tepian ke boat. Dia menumpang pada renangan si Suryadihirto. Jauh sekali dari kepantasan antara pakai hotpant ketat dengan bergelayutan pada si Suryadihirto. Kami sempat berenang-renang sekitar boat. Terutama si Bd dia tampak benar-benar ingin menebus kekurangan yang dirasakannya. Boat bergerak lagi. Rencana mancing tidak jadi dilakukan. Soalnya dengan wajah masam dan kata-kata tak toleran pada kemauan yang lain, Brimen mengumpat beralasan. Begitupun Pn dan As. Ini sudah diluar kekuasaan kita! Pengelanaan ragens efisode III telah berakhir dengan selamat. Semoga sop tengkleng Saharjo bisa mengembalikan tenaga yang terkuras sebelumnya. Sampai jumpa di penjelajahan ragens efisode selanjutnya.

Tidak ada komentar: